Waktu, tentang waktu
Ini bisa diposting berkat kesempatan dan keisengan. Terciptalah note ini.
Happy reading, guys
Cuma butuh waktu~
Mungkin kata-kata diatas udah ngga asing lagi
ditelinga siapapun. Dan itu semua emang
bisa dibuktikan.
Waktu adalah penguji yang teruji.
Karena, dengan waktu semuanya bisa terbukti,
waktu juga yang akhirnya bakal membuktikan
bahwa yang kamu rasakan itu sayang beneran atau cuma penasaran.
Bukti bahwa sebenarnya yang kamu butuhkan adalah orang itu.
Bukti bahwa sesungguhnya kamu bisa merelakan.
Bukti bahwa sejatinya cinta itu harus memiliki atau direlakan sama sekali.
Oke.
Butuh waktu juga untuk akhirnya kita sadar bahwa seseorang begitu berharga.
Biasanya setelah mereka benar-benar pergi.
Kadang itu butuh waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.
Kita ngga bisa menentukan waktu minimal itu.
Tapi, lagi-lagi
karena waktu itulah, dia membiarkan bukti-bukti yang
sedikit demi sedikit bermunculan. Bukti yang
semakin mencuat kepermukaan.
Butuh waktu untuk tau yang dirasakan dan pernah diucapkan dengan manis itu,
benar-benar dari hati datangnya atau hanya sekedar
ucapan manis semata
Dan berapa lama waktu yang dibutuhkan? Kita ngga akan
pernah tau buat tau itu semua, cuma waktu yang tau.
Semua ucapan, semua tindakan, semua harapan, semua angan-angan,
bahkan sepertinya semua hal di dunia ini harus melewati ujian.
Dan waktu seringkali menyajikan ujian yang nggak bisa ditahan.
Semuanya harus melewati fase-fase yang
kadang kita sendiri ngga pernah tau berapa lama
waktu yang kita butuhkan buat berhasil melewatinya.
Tenang ajaaa
Semua bakal indah pada waktunya kok :))
Lagi-lagi kalimat tak asing itu sering diperdengarkan.
Sadar ngga sadar, dalam kalimat tersebut ada
si waktu dan si sabar sebagai pendukung buat kita sampai
pada si titik kebahagiaan.
Sayangnya, kita sebagai manusia sering terlalu nggak sabaran.
Menyimpulkan dan mengambil keputusan
padahal yang dibutuhkan cuma sabar dan kebijaksanaan.
Akhir dari meremehkan waktu
((yang pastinya ngga akan bisa ditarik kembali)) adalah penyesalan.
Lagi-lagi, dalam hal penyesalan sekalipun,
yang paling berperan adalah sang waktu.
Biarkan apa pun yang mendatangi kamu
diuji oleh waktu sebelum memutuskan itulah yang tepat atau cuma selewat.
ditelinga siapapun. Dan itu semua emang
bisa dibuktikan.
Waktu adalah penguji yang teruji.
Karena, dengan waktu semuanya bisa terbukti,
waktu juga yang akhirnya bakal membuktikan
bahwa yang kamu rasakan itu sayang beneran atau cuma penasaran.
Bukti bahwa sebenarnya yang kamu butuhkan adalah orang itu.
Bukti bahwa sesungguhnya kamu bisa merelakan.
Bukti bahwa sejatinya cinta itu harus memiliki atau direlakan sama sekali.
Oke.
Butuh waktu juga untuk akhirnya kita sadar bahwa seseorang begitu berharga.
Biasanya setelah mereka benar-benar pergi.
Kadang itu butuh waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.
Kita ngga bisa menentukan waktu minimal itu.
Tapi, lagi-lagi
karena waktu itulah, dia membiarkan bukti-bukti yang
sedikit demi sedikit bermunculan. Bukti yang
semakin mencuat kepermukaan.
Butuh waktu untuk tau yang dirasakan dan pernah diucapkan dengan manis itu,
benar-benar dari hati datangnya atau hanya sekedar
ucapan manis semata
Dan berapa lama waktu yang dibutuhkan? Kita ngga akan
pernah tau buat tau itu semua, cuma waktu yang tau.
Semua ucapan, semua tindakan, semua harapan, semua angan-angan,
bahkan sepertinya semua hal di dunia ini harus melewati ujian.
Dan waktu seringkali menyajikan ujian yang nggak bisa ditahan.
Semuanya harus melewati fase-fase yang
kadang kita sendiri ngga pernah tau berapa lama
waktu yang kita butuhkan buat berhasil melewatinya.
Tenang ajaaa
Semua bakal indah pada waktunya kok :))
Lagi-lagi kalimat tak asing itu sering diperdengarkan.
Sadar ngga sadar, dalam kalimat tersebut ada
si waktu dan si sabar sebagai pendukung buat kita sampai
pada si titik kebahagiaan.
Sayangnya, kita sebagai manusia sering terlalu nggak sabaran.
Menyimpulkan dan mengambil keputusan
padahal yang dibutuhkan cuma sabar dan kebijaksanaan.
Akhir dari meremehkan waktu
((yang pastinya ngga akan bisa ditarik kembali)) adalah penyesalan.
Lagi-lagi, dalam hal penyesalan sekalipun,
yang paling berperan adalah sang waktu.
Biarkan apa pun yang mendatangi kamu
diuji oleh waktu sebelum memutuskan itulah yang tepat atau cuma selewat.
Komentar
Posting Komentar