Karena yang Allah Gariskan adalah yang Saya Butuhkan

Ini tentang kisah hidup saya selama SMA hingga saya masuk Universitas. Sejak SD saya bercita-cita menjadi seorang bidan, namun cita-cita tersebut berubah ketika saya menduduki bangku SMP, saya bertekad menjadi seorang guru seperti ayah saya. Hal tersebut semakin diperkuat ketika saya memasuki SMA, perjalanan pendidikan saya ketika akan memasuki SMA mengalami suatu ujian, saat itu saya sangat ingin masuk ke SMA Negeri yang ada di daerah kota. Bukan hanya saya, tapi guru-guru sayapun meyakini kalau saya mampu masuk ke SMA tersebut. Namun, beberapa hari sebelum pengumuman nilai hasil Ujian Nasional, saya mengalami sakit Demam Berdarah pada Mei 2010. Kemudian saya dirawat selama seminggu. Setelah kejadian tersebut, saya harus beristirahat di rumah dan tidak bisa mengikuti tes masuk SMA Negeri yang saya inginkan. Saya sempat merasa kecewa, karena orangtua saya pun mengkhawatirkan keadaan saya kala itu dan berpikir panjang jika nanti saya diterima dan harus pulang-pergi dari SMA ke rumah dengan waktu yang cukup lama yaitu kurang lebih 2jam.
Membutuhkan waktu yang cukup lama, hingga akhirnya saya mau menerima untuk mendaftar ke SMA Negeri yang dikenal sebagai sekolah favorit se-Cirebon Timur, di wilayah kabupaten. Yaitu SMA N1 Lemahabang. Akhirnya, tanpa tes dan hanya menggunakan nilai hasil Ujian Nasional yang saya raih saat itu dengan rata-rata 8,25. Saya diterima menjadi siswa SMAN 1 Lemahabang.
                Saya menjalani Masa Orientasi Siswa, melakukan Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa hingga akhirnya saya mulai merasa nyaman berada di lingkungan SMA. Saat itu saya menduduki kelas 10.2 dan selama semester 1 dan 2 saya selalu berada diperingkat 3 besar. Saya semakin nyaman berada di SMAN1 Lemahabang, dengan segala kegiatan-kegiatan yang ada, dengan teman-teman, dengan lingkungan serta dengan guru-guru hebat yang ada disana. Pada saat semester 2 saya mendaftarkan diri menjadi pengurus OSIS SMAN 1 Lemahabang dan diterima menjadi Bendahara 3 OSIS SMA N1 Lemahabang, kemudian saya juga mengikuti kegiatan ekstrakurikuler PASKIBRA.
                Memasuki kelas 11 saya masuk jurusan IPA, 11 IPA 3, saya mulai disibukkan dengan program kerja-program kerja yang ada di OSIS SMA N1 Lemahabang. Pada saat kelas 11 saya mencalonkan diri menjadi ketua OSIS karena memang ambisi saya menjadi Ketua OSIS dan berkat dukungan dari teman-teman organisasi, kelas, kakak kelas serta guru dan orangtua (sebenarnya Ibu saya tidak terlalu menyetujui) saya memberanikan diri mencalonkan menjadi ketua OSIS. Dan alhamdulillah lebih dari setengah jumlah siswa SMAN 1 Lemahabang saat itu memilih saya. Dengan diberi amanah baru, kesibukan saya semakin bertambah dan hal tersebut membuat prestasi akademik saya mulai menurun. Karena saya sangat menyadari, saya tidak bisa mengimbangi antara organisasi dengan belajar saya. Saya tidak masuk ketiga besar siswa di kelas namun saya tetap menduduki 10 besar.
Tak dipungkiri, hal tersebut membuat Ibu dan Ayah saya kecewa. Hal itu ditunjukkan dengan seringnya saya dimarahi ketika pulang sekolah, namun saya selalu berjanji pada diri saya, saya tidak akan mengecewakan kedua orangtua saya lebih banyak lagi. Ujian kembali datang pada pertengahan saya menjabat menjadi Ketua OSIS, sekitar bulan Maret 2012, tepatnya 6 Maret 2012, saya harus dioperasi usus buntu. Hal tersebut cukup menghambat kegiatan saya, karena kurang lebih 3 minggu saya tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar dan tidak menjalankan tanggungjawab saya sebagai ketua OSIS. Dengan luka operasi yang masih belum kering dan perut yang masih sakit, saya kembali sekolah walaupun saat itu orang-orang yang melihat saya merasa 'ngeri' dengan keadaan saya.
                Setelah usai menjabat menjadi Ketua OSIS saya kembali fokus pada belajar saya, walaupun pada kelas 12 semester 1 masa jabatan saya belum habis. Saya juga menjadi menjabat dibeberapa ekstrakulikuler sebagai Staff Organisasi dan Politik di SMAN1 Lemahabang dan Mitra Muda (wakil ketua) PASKIBRA di Kecamatan Lemahabang. Namun saya sebisa mungkin belajar untuk membagi waktu saya. Sampai akhirnya, nilai-nilai pelajaran saya naik walaupun saya tidak bisa menembus 3 besar. Saat itu, teman-teman saya banyak yang mengikuti kegiatan Bimbingan Belajar, namun tidak dengan saya, keadaan ekonomi keluarga saya yang saat itu tidak cukup baik membuat saya berusaha semaksimal mungkin belajar untuk mempersiapkan Ujian Nasonal, dsb. Sekolah saya juga mengadakan kegiatan pengayaan, serta saya sering meminta belajar tambahan terutama di mata pelajaran Matematika. Sampai akhirnya, ujian-ujian itupun tiba. Setelah usai ujian, seluruh siswa kelas 12 mulai dibingungkan untuk memilih universitas dan jurusan apa yang akan kita pilih. Termasuk saya. Saya termasuk orang yang menyukai pelajaran Matematika, namun saat itu ayah saya tidak menyarankan saya untuk memasuki jurusan Matematika karena beliau merasa sudah banyak guru Matematika. Kemudian beliau menganjurkan saya mendaftar ke jurusan PLB (Pendidikan Luar Biasa), karena ayah saya pikir masih kurang Guru SLB.          
Sayapun mulai mendatangai guru BK, berkonsultasi pada guru saya dan orang-orang terdekat mengenai jurusan yang akan saya pilih. Selain PLB, ayah saya juga ingin saya memilih jurusan yang berhubungan dengan Komputer. Kemudian, saat memilih jurusan, saya mengisikan pilihan pertamanya adalah Pendidikan Ilmu Komputer dan pilihan kedua saya adalah PLB,  padahal saya sangat ingin masuk jurusan PLB. Karena saya pikir saya tidak akan diterima di jurusan Pendidikan Ilmu Komputer. Tetapi, pada saat pengumuman pada tanggal 27 Mei 2013, saya diterima di pilihan pertama, saat itu rasa senang karena saya diterima dijalur SNMPTN (tanpa tes) tetapi saya juga sedikit kecewa karena tidak masuk jurusan PLB yang jelas-jelas ayah saya inginkan.
                Setelah berbagai registrasi saya lakukan, dengan uang pertama yang harus dibayar adalah sebesar 5,2jt dan atas pertimbangan dan persetujuan, akhirnya saya melakukan daftar ulang dihari terakhir daftar ulang online tersebut. Satu ujian pada saat saya akan membayar UKT tersebut adalah kondisi finansial keluarga saya yang memang tidak stabil dan kakak perempuan saya yang akan menikah menjadi pertimbangan dan saya hampir tidak akan mengambil SNMPTN tersebut.
                Pada awal perkuliahan saya di ilkom, saya merasa tidak begitu mengerti tentang mata kuliah yang ada di ilkom, saya kuliah dengan setengah hati dan hampir terbesit ingin pindah jurusan. Alhasil, Indeks Prestasi saya di semester 1 bisa dibilang tidak memuaskan. Lagi-lagi saya membuat kedua orangtua saya kecewa. Saya merasa sedih atas apa yang saya lakukan, padahal kedua orangtua saya pasti berjuang semaksimal mungkin untuk membiayai saya kuliah.
                Memasuki semester 2, kembali pada masa pembayaran UKT, entah mengapa masalah finansial ini seakan menjadi ujian disetiap semester saya. Pada semester 2 ini, ayah saya mengalami suatu kejadian yang mengharuskan beliau bertanggungjawab padahal bukan beliau yang menyebabkan hal tersebut. Hingga ayah saya harus menjual motor satu-satunya untuk bekerja. Sampai akhirnya, saya ikut kebingungan karena waktu pembayaran UKT hanya 2 minggu dan saya tidak tahu harus melakukan apa. Sampai akhirnya, Allah selalu memberikan jalan, saya bisa melunasi uang tsb. Saya berusaha dengan semaksimal mungkin untuk tidak membuat kedua orangtua saya kecewa, sampai akhirnya saya mendapat IP cumlaude. Yang saya rasakan selama 2 semester kuliah terdapat kesamaan pada saat akan pembayaran UKT, saya selalu menangis dan menangis, karena masalah tersebut kembali berulang, pun pada saat semester 3.
                Pada saat itu kakak perempuan saya melahirkan dan mengalami pendarahan hingga harus dirawat selama beberapa hari di Rumah Sakit, dan saat itu sudah mulai memasuki masa pembayaran UKT untuk semester 3, uang yang sedang dikumpulkan untuk membayar UKTpun kembali terpakai. Saat itu tinggal beberapa hari lagi masa pembayaran. Saya mendapat tugas untuk menemani kakak saya di Rumah Sakit, menjaganya. Siang harinya, Ibu saya datang. Dan saat itu teman-teman saya menginfokan harus segera membayar UKT sebelum tanggal 8, kalau sampai telat akan dicuti paksa. Maka dari itu, saya bercerita kepada Ibu dan beliaupun merasa bingung. Saya sudah pasrah.
                Pada saat shalat Dzuhur dengan beliau di Rumah Sakit, seusai shalat, pada saat berdo’a. Saya menangis, menangis dan terus menangis. Saya merasa kejadian yang sama selalu terulang setiap semesternya, apa saya akan terus merasakan seperti ini? Satu hal yang membuat saya merasa semakin tak bisa menghentikan tangisan adalah ketika Ibu saya meminta maaf. Jujur saya tidak suka. Saya tidak suka ibu saya bersikap demikian, karena saya tahu  ibu dan ayah pasti sudah berjuang, berusaha semaksimal mungkin.
Teringat saya akan sesuatu hal, saat saya sangat semangat ingin melanjutkan pendidikan saya ke jenjang universitas dan kala itu sebagian besar keluarga saya menginginkan saya bekerja. Termasuk nenek saya. Tapi, saya bersikeras untuk tetap ingin melanjutkan kuliah. Sampai akhirnya, setiap semester saya harus mengalami hal demikian, saya kadang merasa bersalah selalu merepotkan mereka, kedua orangtua saya, bibi dan om, serta banyak pihak yang mungkin sedikit banyaknya membantu keluarga saya, membantu saya.
Lagi-lagi, saya bertekad tidak ingin membuat kecewa kedua orangtua saya. Masih banyak kisah hidup, yang terkadang tanpa henti menguras airmata. Namun, saya berusaha sekuat mungkin untuk menjalani ini semua. Di semester 3 ini saya semakin bersemangat, karena merasa gerbang itu semakin dekat. Saya ingin membuat kedua orangtua, terutama ibu saya tersenyum dan bangga.

Terkadang, saya merasa belum mempunyai ilmu yang cukup. Merasa sangat bodoh, mata kuliah di Ilkom terkadang membuat saya ingin menangis. Tetapi, saya teringat akan sesuatu karena apa yang Allah gariskan untuk kita adalah yang harus kita yakini kita butuhkan bukan tentang selalu apa yang kita inginkan. Saya dengan segala ketidaksempurnaan dan ketidakbisaan saya mengikuti kuliah di Ilkom yang menurut saya berat, namun, kembali saya teringat bahwa Allah menilai saya mampu menjalani ini semua. Semoga Allah ridho, saya akan berusaha semaksimal yang saya bisa kembali untuk mereka yang berjuang tanpa henti dengan doa dan keringatnya untuk saya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

UNIV DAY SMAN 1 LEMAHABANG

Bye 2014, Hi 2015

K A L I A N L A G I